hidran pump

Pompa Hydram Made in Tambakboyo
Hydraulic Ram Pump, Pompa Air Murah dan Mudah
21 August 2008 16 Komentar

Tahun 90-an, lewat lembaga swadaya masyarakat, seperti Lembaga Studi Pengembangan Wilayah (LSPW), kemudian diikuti oleh Departemen Pengembangan Masyarakat (Pengmas) HKBP, Parpem GBKP dan Pengmas GKPI, di Tapanuli Utara dan Tanah Karo, memperkenalkan inovasi teknologi tepat guna dengan membangun puluhan sarana air minum menggunakan Hydraulic Ram Pump.

Kontur wilayah yang didominasi bukit dan lembah di berbagai tempat di Dataran Tinggi Toba, sangat cocok berhubung minimnya fasilitas air minum dan ketidakberdayaan masyarakat menggunakan energi komersial seperti minyak (diesel dan bensin), serta aliran listrik.

Jauhnya sumber air dari perkampungan dengan beda tinggi yang tidak kecil, juga menutup kemungkinan penggunaan mesin sebagai alat pemompa air. Selain karena mahal dalam pengadaanya, biaya pengoperasian juga jauh di atas kemampuan masyarakat.

Dengan Hydram, semua kesulitan itu sepertinya dapat teratasi. Kemampuan untuk mengangkat air dari sumber air yang pada umumnya berlokasi di lembah dengan kedalaman hingga 100 meter, tidak mahal, tidak menggunakan minyak, solar atau listrik, pemeliharaan mudah, tidak menimbulkan polusi, plus dapat beroperasi tanpa harus ditongkrongi selama 24 jam penuh. Sebab, untuk mengoperasikan Hydram hanya membutuhkan tenaga air itu sendiri yang dikenal dengan efek water hammer.

Ibarat istilah Batak, miak na panggorengna (lemak melekat di daging, sebagai minyak penggorengnya), alat ini dapat beroperasi selama ada air yang dijatuhkan lewat pipa ke Hydram, dan tekanan udara yang berubah di dalam tabung Hydram akan mengangkat sebagian air itu ke atas. Jika, ketinggian jatuh air 1 meter, dari pipa berukuran 4 inchi, maka Hydram dapat mengangkatnya secara vertikal 10 meter, dengan ukuran pipa out let 1 inchi. Jika, lembah di suatu desa mencapai 100 meter, maka ketinggian jatuh air vertikan yang dibutuhkan 10 meter saja.

Dari pengalaman pengoperasian Hydram di Sipahutar, konon kedalaman lembahnya mencapai 90 meter vertikal, dengan jarak pipa ke perkampungan berjarak 9 kilometer, air mampu dihantarkan hingga ke desa.

Begitu sederhananya teknologi ini, tentu menjadi peluang besar bagi masyarakat pedesaan untuk tidak lagi kesulitan memperoleh air. Tidak jarang di pedesaan Taput, akibat poisisi desa yang terletak di puncak-puncak perbukitan, warga kesulitan dalam memperoleh air hanya untuk keperluan sehari-hari (domestic uses). Menuruni perbukitan, dengan jalan setapak.

Jika tidak punya tenaga lagi menjinjing air dari lembah, maka alternatif yang paling umum dilakukan adalah menampun air hujan di bak-bak yang khusus dibangun untuk penampung air. Dengan mengharapkan curah hujan, tentu banyak masalah yang timbul. Selain kemungkinan tidak mencukupi kebutuhan domestik sepanjang tahun, juga akan sangat berbahaya terhadap masalah kesehatan. Air hujan tidak mengandung mineral apapun–penyakit gondok di depan mata.

Setelah puluhan tahun kemudian, saya mengetahui bahwa hampir seluruh proyek Hydram itu, tidak dapat beroperasi lagi. Masalahnya, masyarakat ternyata belum siap untuk membangun mekanisme atau sistim manajemen pemeliharaan sehingga peralatan dan seluruh sarana pendukung Hydram itu dapat berfungsi. Walaupun, teknologinya sederhana.

Persiapan sosial yang minim, sepertinya menjadi faktor utama. Padahal dari segi analisis kebutuhan yang dilakukan sebelum proyek disepakati untuk dibangun, menyatakakan proyek pengadaan air minum adalah merupakan skala prioritas. Dari sini dapat ditarik pelajaran, bahwa sesederhana apapun teknologi, harus disosialisasikan secara matang dan persiapan sosial seperti pengorganisasian masyarakat harus dilakukan secara tepat.

Saya belum bisa melupakan, ketika masyarakat di Sipultak – Tapanuli Utara, bersorak gembira, ketika pertama sekali air menyembur hingga ke desa mereka. Di antara mereka ada yang langsung meneguk air itu, dan sebagian lagi ada yang langsung menyiramkannya ke tubuh. Hydram, ternyata memberi harapan baru saat itu.

Pertanyaan sekarang, kenapa teknologi yang tepat guna seperti ini tidak dilirik oleh Pemerintah Kabupaten di Taput, Tobasa, Humbahas, Dairi, Samosir dan Pakpak Bharat, sebagai alternatif dalam penyediaan air bagi masyarakat. Desa Pokki, walau sudah 63 tahun merdeka, penduduknya masih mengkonsumsi air hujan. Dan, banyak lagi desa-desa lain yang memiliki sumber air tetapi tidak bisa dimanfaatkan karena ketiadaan teknologi murah meriah.

Hydram, saya kira cocok untuk diseriusi…

Foto : Dari berbagai sumber

=================================================================================

Dukuh Karanganyar di Kelurahan Tambakboyo adalah sebuah wilayah yang berbatasan dengan Desa Bawen. Umumnya masyarakat Dukuh Karanganyar ini adalah petani. Wajar, jika pengairan menjadi hal yang penting dalam kehidupan mereka. Selama ini, pengairan ke sawah mereka bersumber dari beberapa mata air, utamanya Kali Jengking dan Kali Sumber. Air di kedua sungai ini tetap melimpah meski kemarau melanda. Tak heran, setiap kemarau tiba, kedua sungai tersebut diantre oleh warga yang ingin mendapatkan air bersih.

TAMPUNG: Bak penampung air Made in Tambakboyo ini ada di tiga RT, dimanfaatkan oleh sekitar 709 orang (108 KK) penduduk RW VSejak dua tahun lalu, masyarakat membentuk sebuah kelompok guna mencari jalan keluar terhadap permasalahan ini. Beberapa rancangan, seperti penggunaan pompa listrik atau mesin, yang disusun warga seringkali kurang berhasil, karena terbentur biaya pengadaan dan perawatan yang tinggi. Berbekal keahlian yang ada, masyarakat terus berinovasi guna mencari solusi paling tepat.

Salah seorang warga bernama Legimin (30 tahun) yang bekerja sebagai mekanik pada bengkel milik Pujiono (pendiri Pondok Pesantren Miftakhul Jannah) melihat dan merenungkan tentang kebutuhan air yang ada di Pondok Pesantren. Ia memperhatikan cara penyaluran air di pondok pesantren tersebut, yang asalnya dari sumber air di pegunungan menuju pondok melalui pipa-pipa hidran, layaknya pipa PDAM. Proses tersebut berfungsi dengan baik, padahal semuanya buatan sendiri.

Kemudian, Legimin bersama empat orang rekan kerja di bengkel mencoba merakit sebuah alat pompa tanpa bahan bakar ataupun motor listrik. Ia merancang pompa dengan sistem kapilerisasi yang memanfaatkan tenaga air itu sendiri, yaitu efek water hammer yang terjadi karena perbedaan ketinggian antara sumber air dengan pompa, untuk memompa air ke tempat yang lebih tinggi.

Sayangnya, setelah lima bulan mencoba, pompa buatan mereka belum dapat berjalan dengan baik seperti dengan yang diharapkan. Tapi, setelah dipadukan dengan sistem pemompaan pada pompa air Dragon, pompa tersebut dapat difungsikan dalam kapasitas kecil. Alat ini belum difungsikan secara nyata di lapangan, karena terbentur dana.

Kemudian pada Mei 2007, tepatnya ketika Program PNPM – P2KP masuk ke Desa Tambakboyo dan memasuki pelaksanaan Pemetaan Swadaya di Dukuh Karanganyar, masyarakat melontarkan kembali permasalahan kebutuhan air yang belum terealisasi . Saat wacana ini dimasukkan ke dalam PJM Pronangkis BKM Anugrah Sejati,anggota BKM terpilih dari warga RW V Paiman, bersama dengan masyarakat, mencoba “menghidupkan” kembali kelompok masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan air yang dulu pernah dibentuk.

Klik gambar untuk memperbesar tampilanSetelah bermusyawarah berkali-kali, masyarakat menamakan kelompok ini sebagai KSM Asoka, yang terdiri dari Kusnadi sebagai ketua, Legimin sebagai mekanik dan Komari sebagai pelaksana lapangan. Alhasil, setelah kegiatan KSM Asoka diprioritaskan dalam Bappuk I, Legiman diberi mandat oleh warga untuk membuat kembali alat pompa tersebut dengan skala yang lebih besar, dengan bentuk yang lebih sempurna dibandingkan percobaan-percobaan yang selama ini telah dilakukan.

Selanjutnya KSM Asoka segera merencanakan biaya pembuatan alat pompa beserta instalasi pipa dan bangunan penunjang lainnya, sehingga diharapkan pompa yang terbuat nantinya dapat melayani kebutuhan air bersih wilayah RW V. Sebagai catatan, hampir 80% dari total jumlah penduduk RW V berada di bawah garis kemiskinan.

POMPA: Dengan memanfaatkan efek water hammer, Pompa (C) memompa air yang masuk dan menekan ke atas melalui pipa berdiameter 1,5 inchiPompa mengambil air bersih dari dua sumber, yaitu Kali Jengking (A1) dan Kali Sumber (A2). Air tersebut ditampung ke dalam Bak Penampung (B) dengan pipa berdiameter 2 inchi. Kemudian, air dialirkan lagi ke pompa (C), dengan pipa berdiameter 3 inchi yang memiliki beda tinggi sekitar 2 meter. Dengan memanfaatkan efek water hammer, Pompa (C) memompa air yang masuk dan menekan ke atas melalui pipa berdiameter 1,5 inchi. Dari sistem pemompaan ini, hanya 40% air keluar sedangkan 60% berada di dalam tabung untuk menekan ke atas.

Air yang menyembur ke atas dialirkan melalui pipa berdiameter 1,5 inchi, menuju Tower (D) yang berada sekitar 200 meter dari pompa Hydram (dan beda tinggi sekitar 20 meter). Ukuran tower adalah sebesar 1 x 1 meter persegi, dengan ketunggian 3 meter di atas tanah. Selanjutnya dari tower dibagi menjadi tiga bak penampung (E1, E2 dan E3) berukuran 1 x 3 meter persegi dan tinggi 2 meter — di atas tanah berukuran 2 x 3 meter persegi milik warga yang telah dihibahkan — ke wilayah RT masing-masing di wilayah RW V, yaitu ke bak penampung wilayah RT 01 yang berjarak 30 meter, ke bak penampung wilayah RT 02 yang berjarak 448 meter, dan bak penampung wilayah RT 03 yang berjarak 150 meter. Meski jaraknya berjauhan dan terdapat beda tinggi pompa dengan lokasi tower hingga 20 meter, pompa ini berhasil menaikkan air hingga ke tower.

NAIK: Pompa buatan masyarakat Tambakboyo ini mampu menaikkan air hingga ke tower yang tingginya sekitar 20 meterPembuatan dan instalasi pompa air ini menghabiskan dana sekitar Rp 4,5 juta – Rp 5 juta. Sedangkan tower dan bak penampung, beserta pipa sepanjang lebih dari 500 meter ini, KSM Asoka menyerap dana total sebesar Rp 34,9 juta, yang terdiri atas Rp 22,5 juta dari dana BLM, ditambah swadaya masyarakat berupa tenaga dan lain-lain sebesar Rp 12,4 juta.

Dengan perincian, Pipa besi diameter 6 inchi (ketebalan 4 – 5 mm) untuk tabung utama, pelat landas sebagai pemisah tabung dengan pipa di bawah tabung ataupun di bawah pelat pompa, klep pipa dari ban mobil bekas yang berbantuk melengkung, pipa besi 4 inchi untuk menyambung ke pipa tandon air, pipa besi melengkung yang berada di bawah tabung yang sebelumnya hanya pipa rata, dan alat-alat kecil penunjang lainnya.

Sejauh ini, meski jarak sumber air berjauhan, pompa ini mampu menaikkan air hingga ke tower. Padahal, beda tinggi pompa dengan lokasi tower sekitar 20 – 25 meter. Alat ini dapat dimanfaatkan oleh 108 KK (709 jiwa) di wilayah warga RW V, bahkan sekitarnya. Bagi mereka, ide pelaksanaan pompa ini merupakan suatu awal. Dan, jika berhasil, maka kegiatan ini akan “ditularkan” kepada RW sekitar yang mengalami permasalahan yang sama. (Jauhari,ST, Askorkot Infrastruktur Semarang, P2KP Prov. Jawa Tengah/TA Infrastruktur KMP P2KP-2, PNPM Mandiri Perkotaan; Firstavina)

Informasi lebih lanjut terkait kegiatan BKM Anugrah Sejati, dapat menghubungi:

BKM Anugrah Sejati

Desa Tambakboyo, Kecamatan Ambarawa,
Kabupaten Semarang
Contact Person: Bpk. Paiman (Koordinator BKM) – 08179560653

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s